Mar 04 2014

First Regional UX Indonesia-Malaysia Event To Be Launched in Jakarta

A Full-Day UX Event: Seminar and Networking

UX Indonesia - Malaysia 2014.

UX Indonesia, recognized as the pioneer of UX in Indonesia, will host the first UX Indonesia-Malaysia Seminar and Networking event on April 26, 2014 in Jakarta, Indonesia.

The event aims to create the awareness of ICT community in Indonesia and Malaysia about the importance of user experience in improving the quality of every day life. As the only UX event in the region dedicated for ICT professionals and academics, UX Indonesia-Malaysia 2014 is also supported by ACM SIGCHI, the premier internationational society for professionals, academics and students who are interested in human-technology & human-computer interaction (HCI).

UX Indonesia-Malaysia 2014.

UX Indonesia-Malaysia 2014.

The line-up of international speakers include Dr Eunice Sari – the Founder of OLC4TPD Australia, Prof Zheng Jie Liu – Professor at School of Information Science & Technology of Dalian Maritime University in China, Adi Tedjasaputra, M.Sc – Principal Consultant of UX Indonesia, Chui Yin Wong, M.Sc – Senior Lecturer of Multimedia University Malaysia, Ashok Sivaji, M.Sc – UX Lab Lead of Mimos Berhad Malaysia and Idyawati Hussein, M.Sc of International Islamic University Malaysia.

If you are a professional or academic in Information and Communication Technology (ICT) industry in Indonesia or Malaysia, this is a must-go event in 2014 that you do not want to miss. Please send your expression of interest to attend this invitation-only event to eunice@uxindo.com.

This event is supported by

ACM.

SIGCHI.


May 08 2013

Heboh Fotokopi e-KTP

Apa sih yang membuat masalah fotokopi e-KTP jadi heboh?

  1. Mendagri Gamawan Fauzi mengemukakan bahwa e-KTP tidak diperkenankan difoto copy, distapler dan perlakuan lainnya yang merusak fisik e-KTP.
  2. Mendagri juga menegaskan bahwa apabila masih terdapat unit kerja/badan usaha atau nama lain yang memberikan pelayanan kepada masyarakat, masih memfoto copy, menstapler dan perlakuan lainnya yang merusak fisik e-KTP, akan diberikan sanksi sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku karena sangat merugikan masyarakat, khususnya pemilik e-KTP.
Adi Tedjasaputra.

Adi Tedjasaputra.

Kalau pelarangan stapler dan perlakuan lainnya yang merusak fisik e-KTP masih sesuai dengan akal sehat dan hukum yang berlaku, tetapi bagaimana dengan fotokopi? Apakah larangan fotokopi sesuai dengan akal sehat, atau melanggar hukum, atau dua-duanya?

Walaupun masih banyak instansi dan aparat pemerintah yang saat ini melakukan perusakan terhadap dokumen negara secara sistematis, seperti KTP, paspor atau akte kelahiran yang dengan secara sengaja distapler atau ditempeli stiker, entah karena kemalasan atau ketidak pedulian, tidak pernah ada instansi atau aparat pemerintah yang dikenakan sanksi berkenaan dengan perusakan dokumen negara. Orang berakal sehat pasti berpikir: Siapa mau dokumen penting dirusak entah oleh sendiri, orang lain atau aparat pemerintah?

Dasar hukum dari pernyataan Mendagri adalah Surat Edaran nomor: 471.13/1826/SJ tertanggal 11 April 2013 yang ditujukan kepada para Menteri/ Kepala Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK)/Kepala Lembaga lainnya, Kapolri, Gubernur Bank Indonesia (BI)/Para Pimpinan Bank, para Gubernur, Bupati/Walikota dan juga Peraturan Presiden Nomor 67 Tahun 2011 mengenai penerapan KTP berbasis NIK secara nasional

Sesuai dengan KUHP pasal 233 yang bunyinya sebagai berikut:

Barang siapa dengan sengaja menghancurkan, merusak, membikin tak dapat dipakai, menghilangkan barang-barang yang digunakan untuk meyakinkan atau membuktikan sesuatu di muka penguasa yang berwenang, akta-akta, surat-surat atau daftar-daftar yang atas perintah penguasa umum, terus-menerus atau untuk sementara waktu disimpan, atau diserahkan kepada seorang pejabat, ataupun kepada orang lain untuk kepentingan umum, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun.

dan pasal 417 yang bunyinya sebagai berikut:

Seorang pejabat atau orang lain yang diberi tugas menjalankan suatu jabatan umum terus-menerus atau untuk sementara waktu yang sengaja menggelapkan, menghancurkan. merusakkan atau membikin tak dapat dipakai barang-barang yang diperuntukkan guna meyakinkan atau membuktikan di muka penguasa yang berwenang, akta-akta, surat-surat atau daftar-daftar yang dikuasai nya karena jabatannya, atau memhiarkan orang lain menghilangkan, menghancurkan, merusakkan atau memhikin tak dapat di pakai barang-barang itu, atau menolong sebagai pembantu dalam melakukan perbuatan itu, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan.

seorang aparat negara dapat dikenakan sanksi berupa pidana penjara paling lama 9 tahun dan 6 bulan atau 4 tahun bagi seseorang yang dengan sengaja menghancurkan, merusak, membikin tak dapat dipakai atau menghilangkan e-KTP.

Bagaimana fotokopi e-KTP bisa menyebabkan kesalahan fatal dalam penggunaan e-KTP?

Alasan yang dikemukan Mendagri mengenai larangan fotokopi e-KTP adalah sebagai berikut:

agar tidak terjadi kesalahan fatal dalam penggunaan e-KTP

Apabila dicermati sekilas, alasan ini terkesan dibuat-buat atau tidak masuk akal. Tetapi sebenarnya adakah penjelasan teknis yang berkaitan dengan hal ini?

e-KTP menggunakan teknologi identifikasi gelombang radio (RFID) dimana chip dan antena ditempelkan pada lembaran polyethylene terephthalate (PET) yang kemudian disisipkan dalam kartu e-KTP. Untuk membaca data yang tersimpan di chip e-KTP dibutuhkan sebuah pemindai (reader) yang akan berkomunikasi dengan chip melalui gelombang radio.

Mendagri mungkin mengemukakan larangan fotokopi karena takut proses mekanis fotokopi yang berulangkali sehubungan dengan penekanan kartu dapat merusak chip atau antena yang bersangkutan di dalam e-KTP, sehingga bisa terjadi kesalahan fatal apabila kartu e-KTP dipindai oleh sebuah pembaca.

Sayangnya hal ini hanyalah mitos belaka. Dari pengalaman saya hampir 10 tahun di industri RFID, saya belum pernah dengar bahwa proses fotokopi bisa merusak chip atau antenna RFID, apalagi kalau dibuat dengan metoda pencetakan muktahir dan kualitas fisik kartu yang tinggi. Pengecualian dalam hal ini adalah apabila teknologi RFID yang dipakai mengintegrasikan teknologi konduksi cahaya (photoconductive), yang saya ragukan sudah dipakai oleh teknologi SmartMX yang dipasok oleh NXP ini. Dengan teknologi konduksi cahaya pun, e-KTP tidak mungkin rusak dengan fotokopi biasa.

Seandainya pun memang terbukti proses fotokopi berulang kali dapat menyebabkan kesalahan fatal dalam penggunaan e-KTP, satu-satunya alasan logis adalah kualitas fisik kartu e-KTP yang bermutu rendah.

Saya pribadi lebih kuatir mengenai keamanan data pribadi e-KTP daripada kualitas fisik kartunya yang mungkin bermutu rendah. Apalagi sekarang sudah beredar beberapa cuplikan di Youtube mengenai pemindaian e-KTP dengan pemindai yang ada di pasaran. Kalau kualitas fisik kartunya bermutu rendah, bukanlah tidak mungkin bahwa keamanannya mudah dijebol. Ditambah dengan faktor korupsi yang sudah membudaya, kemungkinan bahwa data pribadi Anda tidak aman atau disalah gunakan menjadi semakin menakutkan.

Kartu bisa diganti, tetapi data pribadi Anda tidak bisa.